Pemerintah Kabupaten Pacitan · Kecamatan Ngadirojo
Profil Desa Pagerejo
“"Mewujudkan masyarakat Desa Pagerejo yang berdaya, mandiri dan mampu berkembang serta mengembangkan dirinya dengan berbasis optimalisasi pengelolaan sumber daya alam"”
4.868
Penduduk
jiwa
2.406
Laki-laki
2.462
Perempuan
1.753
Kepala Keluarga
KK
9
Dusun
9 RW · 28 RT
697,249
Luas Wilayah
Hektar
Latar
Sejarah & Latar Desa
Pagerejo, Desa yang meskipun terpencil tetapi memiliki nilai Sejarah tinggi terhadap peradapan Kota Lorok, Kecamatan yang sering dianggap kota kedua di Kabupaten Pacitan. sejarah itu dimulai sekitar 500 (lima ratus) tahun yang lalu atau sekitar tahun 1568 Masehi yaitu masa keemasan atau berdirinya Kerajaan Pajang (Padjang), dan masa berkuasanya Belanda. Adat istiadat serta serta cara hidup para leluhur serta masyarakat pada waktu itu, masih sangat polos, lugu dan masih sangat kental dengan tradisi Jawa Kuno. Dialog dan percakapan serta cara berpakaian sehari-hari kebanyakan meniru adat Surakarta. Cerita Cikal Bakal berdirinya Desa Pagerejo ini diawali dari keberadaan Ki Bandung dan Raden Panji Sanjayarangin dalam Babad Nglorog. Ki Bandung, sebenarnya bangsawan dari tanah Priyangan, Jawa Barat yang melarikan diri ke Pajang. Ia memiliki darah biru (masih trahing kusuma rembesing madu dalam istilah Jawa) dari Raden Adipati Nagari Bandung, di Jawa Barat. Bermula dari perselisihan paham dan permusuhan dengan adiknya, Ki Ageng Bandung yang kalah, akhirnya mengembara ke Kerajaan Pajang. Karena berasal dari nagari Bandung, maka ia akhirnya terkenal dengan sebutan Ki Ageng Bandung (Kyai Bandung). Di Pajang Ki Bandung mendirikan Perguruan dan muridnya banyak sekali, diantaranya adalah Raden Panji Sanjayarangin yang masih merupakan keturunan Jaka Tingkir (Mas Karebet) dari isteri selir. Jaka Tingkir sendiri, kelak dikemudian hari menjadi Raja Pajang dengan gelar atau sebutan Sultan Hadiwijaya. Di Pajang Ki Bandung tidak kerasan, lalu meninggalkan Pajang menuju Kadipaten Ponorogo yang diikuti oleh Raden Panji Sanjayarangin. Sebelum kedatangan Ki Ageng Bandung dan Raden Sanjaya Rangin, Adipati Batara Katong sudah lebih dulu kedatangan Ki Ageng Ampak Baya dan Ki Menak Sopal. Atas seijin Adipati Batara Katong, kedua orang ini membuka hutan. Ki Ampak Baya membabad hutan di wilayah Pacitan, sedang Ki Menak Sopal membuka hutan di sebelah timur Ponorogo yang dalam perkembangannya wilayah ini bernama trenggalek. Ki ageng Ampak Baya kemudian terkenal dengan nama Ki Ageng Posong memimpin perdikan ketiga, sebab tanah perdikan pertama berlokasi di Jati dan tanah perdikan kedua dipimpin oleh Ki Ageng Petung di Rejasa. Sedang tanah perdikan keempat dipimpin/didirikan oleh Syeh Maulana Maghribi, seorang mubalig penyebar islam bertempat tinggal di Duduwan. Dengan datangnya Ki Ageng Petung, Ki Ageng Posong dan Syeh maulana Maghribi di Pacitanpun terjadi Islamisasi. Pendatang baru ini harus berhadapan dengan penguasa setempat/ pardikan pertama yaitu Ki Ageng Buwono Keling yang tetap mempertahankan tradisi-tradisi Hindu-Budha. Kedatangan Ki Ageng Bandung dan Raden Panji Sanjayarangin diterima oleh Batara Katong (Adipati Kadipaten Ponorogo), selanjutnya karena kesetiaannya, Ki Ageng Bandung dan Raden Sanjaya Rangin diberi tanah untuk didiami yakni di daerah pesisir Selatan, yang dibatasi dari arah Barat yakni daerah Kaliwuluh, ke Timur sampai Nglorog, Panggul dan Sumbreng. Ki Bandung dan Raden Panji Sanjayarangin memulai pengembarannya ke Selatan sampai pada suatu hutan lebat yang akhirnya dipakai sebagai peristirahatannya (pesanggrahan), yang petilasannya sekarang menjadi desa Sanggrahan, Kecamatan Kebonagung dan termasuk wilayah desa Ketro Wonojoyo. Dalam pada itu Ki Bandung memerintah Raden Panji Sanjayarangin untuk bisa mencari tempat lain untuk didiami, dan ketemulah suatu tempat di dekat gunung Kunir. Akan tetapi setelah dibabad tempat ini tidak rata penuh dengan bukit dan lembah. Pembabatan semakin ke utara disini tempatnya agak rata yang sampai sekarang dinamakan desa Nglaran (dari kata welaran = pelebaran) yaitu pelebaran dari wilayah Gunung Kunir yang selanjutnya dibuat suatu padusunan dengan nama dusun Nglaran yang sampai sekarang lestari menjadi Desa Nglaran, Kecamatan Tulakan. Pada suatu hari, Ki Bandung di Sanggrahan dan Raden Panji Sanjayarangin di Nglaran, sepakat untuk memperluas pengembaraannya. Menyisir Kaliwuluh ke Timur sampai Nglorog, Panggul dan Sumbreng. Tetapi dari keempat pesisir itu, NGLOROG lah yang paling potensi untuk dibabad sebagai permukiman baru. Daerah Nglorog saat itu masih berwujud rawa, maka diambilah lokasi Barat Daya sebagai tempat untuk ditempati, yang akhirnya tempat itu diberi nama Desa Bandung (saat ini disebut dusun Bandung, Desa Pagerejo, Kecamatan Ngadirojo). Di Desa Bandung itulah akhirnya Ki Bandung dan Raden Panji Sanjayarangin menetap dan meninggalkan desa Sanggrahan dan desa Nglaran. Pengembaraan Ki Bandung dan Raden Panji Sanjayarangin ternyata dipantau oleh Adipati Ponorogo, sehingga pada saat terjadi persowanan di bulan Mulud, sang Adipati berkenan hatinya melihat prestasi Ki Bandung, maka selanjutnya Ki Bandung diangkat sebagai NGABEI di NGLOROG. Sebagai Ngabei, Ki Bandung mempertajam karakter penjelajahannya, maka suatu hari Ki Bandung menjelajah Nglorog arah Timur Laut. Di jalan Ki Bandung melihat ada 2 (dua) burung perkutut yang suaranya merdu sekali. Kemudian didekatinya burung itu, ternyata sedang bertengger di sebuah pohon Tanjung dekat sebuah bangunan Joglo dan Masjid kecil, tapi ternyata kosong tanpa penghuni. Setelah diteliti ternyata di dalam Joglo ditemukan surat yang menerangkan bahwa Joglo dan masjid itu patilasan Ki Sunan Geseng. Isi surat tersebut “Manawa alas iki wis babad sarta wis dadi desa reja, pandhapa iki dak cadangkake sapa kang dadi lurah. Lan masjid ing sakidul kulone iki dienggo panggonan mulang santri. Dene kang agawe pandhapa lan masjid iki aku, Sunan Geseng”, yang artinya “Apabila hutan ini sudah dibabat dan menjadi desa yang makmur, pendapa ini aku tujukan untuk siapa yang akan menjadi kepala desa. Masjid di sebelah tenggara nanti digunakan untuk tempat belajar para santri. Yang membangun pendapa dan masjid aku, Sunan Geseng”. yang sampai sekarang tempat itu disebut sebagai Dusun Tanjung, Desa Tanjungpura. Sedangkan masjidnya dikenal sebagai masjid Tiban yang artinya tiba tiba muncul. Bangunan ini dulu seperti atapnya adalah alang – alang bersap dua dan ada kubahnya seperti bangunan orang hindu zaman dulu. Ki Bandung meneruskan pengembaraannya kearah Utara di sepanjang sungai Ngadiraja, lalu menyeberang ke Timur sungai langsung ke Utara , kira-kira 1 (satu) kilometer, tempat itu diberi tanda dengan bendera kecil, yang sampai sekarang disebut dusun Ndira, yang akhirnya diberikan kepada Raden Panji Sanjayarangin. Di kemudian hari jadilah padusunan yang ramai sampai ke Utara dan selanjutnya jadilah Dusun Njayan. Setelah Ki Bandung diangkat sebagai Ngabei di Nglorog, lalu menikah dengan putrinya Ki Ageng Djantur, yang konon katanya Nyai Ageng Djantur itu keturunan Bidadari (wallahu aklam bishawab), dan dikaruniai putra 4 (empat) orang. Yang sulung wanita (agak cacat fisik permanen di keningnya), nomor 2 (dua) putri lagi (cantik jelita) diberi nama Pandada, yang nomor 3 (tiga) laki-laki bernama Ki Manten/Ki Satriyo, sedang yang nomor 4 (empat) laki-laki bernama Bayi. Dalam pada itu, Ki Bandung menjalin kemitraan dengan Ki Ageng Brontok dan Ki Ageng Klesem, secara kebetulan Ki Bandung mempunyai putri sudah gadis, dan Ki Ageng Klesem mempunyai putra sudah perjaka bernama Ki Wanapala, keduanya berminat dijodohkan. Namun kelihatannya putra Ki Ageng Klesem, sang perjaka Ki Wanapala itu, tidak berkenan karena wujud fisik putra Ki Bandung mengecewakan. Melihat gelagat ini, tanggaplah Ki Bandung, yang akhirnya demi sang anak, seandainya Ki Wanapala berkenan mempersunting anak Ki Bandung, oleh Ki Bandung, Ki Wanapala akan diberi hadiah berupa pangkat yang dipegangnya, yakni Ngabei. Maka jadilah suami istri antara anak Ki Bandung dengan Ki Wanapala, yang selanjutnya Ki Wanapala diberi hadiah Ngabei menggantikan Ki Bandung. Suatu hari Ki Wanapala diberi tugas oleh Ki Bandung untuk membuka lahan disebelah utara dusun Tanjung, untuk kemudian agar dapat dipakai sebagai tempat tinggal, agar di kemudian hari Ki Wanapala dapat meninggalkan sejarah patilasan sendiri. Sebagai orang yang bertanggung jawab, Ki Wanapala dengan rajinnya setiap hari membuka lahan di daerah yang ditunjuk oleh Ki Bandung itu. Dan disetiap hari Ki Bandung selalu bertanya bagaimana hasil pekerjaan Ki Wanapala dengan kalimat yang selalu sama, yakni: “PIYE THOLE, APA BABADANMU WIS OLEH AMBA?” (Bagaimana ananda, apa pekerjaan lahanmu sudah lebar?). Selalu dan selalu begitu pertanyaan Ki Bandung setiap hari, sampai berhari-hari. Lama kelamaan Ki Wanapala marah juga, tetapi tidak berani menunjukkan dengan terus terang, hanya dengan ungkapan kata: “OOO…… BAPAK, DAYA WIYARA” ( O bapak, belum bisa lebar). Mendengar ungkapan kata yang terdorong amarah itu, Ki Bandung tidak mengimbangi marah, tetapi malah senang dan tersenyum, kemudian bersabdalah Ki Bandung, “BABADANMU IKU YEN WIS DADI DESA, JENENGNA WIYARA!”. Ki Wanapala menjawab : “PRAYOGI”. Dan sampai sekarang desa itu disebut sebagai desa Wiyoro. Dan pada masa itu pula sebenarnya Kyai Ageng Bandung berkehendak untuk mewariskan Desa Bandung kepada anak laki-lakinya yang terakhir, Ki Bayi. Pada suatu ketika, Kyai Ageng Bandung, menggali sebuah sumur sebagai sumber air. Pada saat sumur sudah selesai, terjadi sebuah kejadian yang sangat tragis, yaitu anak terakhir Kyai Ageng Bandung yang bernama Ki Bayi terjatuh ke dasar sumur sampai meninggal dunia. Begitu sedihnya Nyai Ageng Bandung, sampai-sampai jasad Ki Bayi yang sudah meninggal tidak boleh untuk dikuburkan dan terus-menerus ia gendong. Berharap sang anak untuk bisa dihidupkan kembali oleh Kyai Ageng Bandung "Mohon maaf, Kyai. Kyai ini kan sudah sangat tersohor sebagai orang yang luar biasa, punya kemampuan yang juga luar biasa, sangat dihormati orang karena kehebatanmu Kyai. Tolong hidupkan kembali ki Bayi," ratap Nyai Ageng Bandung pada suaminya. Kyai Ageng Bandung menjawab," Nyai, tidak seorangpun bisa menghidupkan orang yang sudah mati, kecuali Tuhan yang Maha Kuasa. Termasuk aku juga tidak mampu. Sudahlah, terima saja ini sebagai bagian dari suratan takdir kita." Akhirnya, Nyai Ageng Bandung menjawab untuk yang terakhir kalinya, "Kalau demiakian adanya, Kyai juga menerima takdir bahwa saya sudah tidak bersama lagi dengan Kyai dan saya akan kembali ke Ibu saya," Sesaat kemudian jasad sang anak kesayangan, Ki Bayi diserahkan pada suaminya, dan Nyi Ageng Bandung muksa/ kepergian kealam ghaib. Ia kembali jadi bidadari dan berkumpul kembali dengan ibunya, meninggalkan kesedihan yang tiada tara dan berganda pada Kyai Ageng Bandung. Kematian sang anak bungsu sekaligus ditinggalkan sang istri yang murka. Begitu mendalamnya rasa sedih Kyai Ageng Bandung atas peristiwa ini, sampai ia mengeluarkan satu peringatan keras dan larangan untuk semua warga Desa Bandung untuk tidak membuat sumur, sampai tujuh turunan. "Siapapun yang melanggar pantangan saya ini akan menghadapi kesusahan dan kesedihan yang tiada habisnya. Dan ini harus terus dipegang teguh dan jangan sampai dilanggar sampai keturunan yang ke tujuh," kata Kyai Ageng Bandung pada semua warga Desa Bandung. Pada akhirnya Kyai Ageng Bandung harus menerima kenyataan pahit dan sangat memilukan ini. Ia menguburkan jasad sang anak di tempat ia tingggal selama ini, Desa Bandung. Dan hingga saat ini, makam Ki Bayi (sekarang lebih dikenal dengan makam Mbah Bayi) masih menyimpan aura mistis dan tetap menjadi tempat yang dikeramatkan (jadi pepunden) khususnya oleh masyarkat Dusun Bandung, Desa Pagerejo, Kecamatan Ngadirojo. Konon ceritanya, pada malam Jumat tertentu atau hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon), makam Mbah Bayi sesekali mengeluarkan api yang menyala-nyala. Sepeninggal putra kesayangannya, Ki Bayi, akhirnya Kyai Ageng Bandung pindah ke tempat anaknya yang ketiga, Ki Manten atau Satriya dan bermukim serta meninggal di Dusun tersebut yang akhirnya tempat tersebut sekarang dinamakan Dusun Setriyan, Desa Hadiluwih, Kecamatan Ngadirojo. Dalam Sejarah perkembangannya, sepeninggal Ki Ageng Bandung, dan setelah berdirinya Kabupaten Pacitan pada tahun 1745 Masehi, di Nglorok (saat ini dikenal dengan kata Lorok), Selain Desa Bandung, Desa Tanjung, Desa Wiyara diatas juga terdapat banyak Desa, diantaranya yang berbatasan langsung dengan Desa Bandung adalah Desa Pager Gunung, dan Desa Brungkah. Kemudian dibawah Pemerintahan Kabupaten Pacitan setelah melalui Sejarah Panjang, pada tahun 1913 Masehi, Desa Bandung, Desa Pager Gunung, Desa Brungkah dilebur menjadi 1 dan berdirilah Desa baru yang diberi nama DESA PAGEREJO dengan dipimpin oleh Lurah pertama saat itu Mbah Brahim. Akan tetapi kepemimpinan Mbah Brahim hanya bertahan selama 40 hari karena meninggal dunia dan digantikan oleh Mbah Mangun yang kemudian berkembang dan mengalami beberapa kali pergantian lurah hingga saat ini.
Arah pembangunan
Visi & Misi
Visi
"Mewujudkan masyarakat Desa Pagerejo yang berdaya, mandiri dan mampu berkembang serta mengembangkan dirinya dengan berbasis optimalisasi pengelolaan sumber daya alam"
Misi
- "Pemberdayaan Masyarakat melalui peningkatan SDM yang mampu mengikuti perkembangan jaman yang muaranya mampu mengentaskan kemiskinan, mengembangkan usaha kecil dan menengah, menciptakan lapangan kerja serta meningkatnya derajat kesehatan masyarakat."
Geografis
Batas Wilayah
Sebelah Utara
Cokrokembang
Sebelah Timur
Wiyoro
Sebelah Selatan
Hadiluwih
Sebelah Barat
Padi,Tulakan
Jarak ke pusat kecamatan 2,7 km, ke ibu kota kabupaten 38 km. Dusun: Bandung Kidul, Bandung Wetan, Bandung Kulon, Krajan, Karang, Plugon, Nglembu, Brungkah, Kaarang Anyar.
Statistik
Data Demografi
Tingkat Pendidikan
- SD1.681(46%)
- SMP862(24%)
- SMA884(24%)
- Diploma15(0%)
- S1216(6%)
- S24(0%)
Mata Pencaharian
- Tidak Bekerja771(19%)
- Buruh Tani10(0%)
- Petani1.026(25%)
- Pedagang815(20%)
- PNS62(2%)
- Karyawan Swasta801(20%)
- Ibu Rumah Tangga569(14%)
Agama
- Islam4.861(100%)
- Kristen7(0%)
Unggulan
Potensi Desa
Padi, kedelai
Hasil dari pertanian di sawah
Kelapa, Cengkeh, Kopi, Porang, Alpukat, Coklat, Mangga
Hasil dari perkebunan warga
Sapi, Kambing, Ayam
Penggemukan, pembiakan, ayam petelur
Lele
Pembesaran
Jati, Sengon, Akasia
hasil hutan warga
Makanan Ringan, Tempe, Tahu
Produksi makanan ringan seperti ssale, keripik, makanan basah, produksi tempe dan tahu milik warga
Air Kemasan
produksi air minum kemasan milik warga
Pemerintahan
Struktur Perangkat Desa

Sucipto
Kepala Desa

Susanto
Sekretaris Desa

Mardiyanto
Kaur Umum dan Tata Usaha

Agus Susilo
Kaur Keuangan

Teguh Susilo
Kaur Perencanaan

Sunaryo
Kasi Pelayanan

Grasiela Aryano
Kasi Kesejateraan

Galih Ari Jatmiko
Kasi Pemerintahan

Sutrisno
Kepala Dusun Bandung Kidul

Dani Pandu Darmono
Kepala Dusun Bandung Wetan

Anang Mujadi
Kepala Dusun Bandung Kulon
Ali Sukandar
Kepala Dusun Krajan
Eko Prasetiyo
Kepala Dusun Karang
Eko Heriyanto
Kepala Dusun Plugon
Aris Susanto
Kepala Dusun Nglembu
Sunardi
Kepala Dusun Brungkah

Tukadi
Kepala Dusun Karang Anyar
Sumber data: Profil Desa. Ditampilkan melalui SiSoge — layanan administrasi desa Kabupaten Pacitan.
